Tiga Malapetaka Industri Anggur Eropa pada Abad ke-19 dan Pelajarannya bagi Pertanian

Iklan lama bubur Bordeaux: petani menyemprot kebun anggur dengan larutan tembaga sulfat
Iklan lama bubur Bordeaux (bouillie bordelaise) untuk kebun anggur. Sumber: Wikimedia Commons, domain publik.

Pada paruh kedua abad ke-19, industri anggur dan wine di Eropa, khususnya Prancis, dihantam tiga wabah berturut-turut: embun tepung (powdery mildew), filoksera, dan embun bulu (downy mildew). Ketiganya berasal dari Amerika Utara dan tiba di Eropa bersama bibit atau tanaman yang diimpor. Kisah ini menjadi salah satu pelajaran terpenting dalam sejarah perlindungan tanaman.

1. Embun Tepung (Powdery Mildew)

Penyakit ini muncul di Eropa pada pertengahan 1840-an. Penyebabnya adalah jamur Erysiphe necator (dulu disebut Uncinula necator). Daun muda ditutupi bintik-bintik putih seperti tepung yang kemudian meluas ke seluruh daun dan buah. Buah menjadi abu-abu kotor, kerdil, kadang retak, dan tidak layak diolah menjadi wine. Pada 1854, produksi wine Prancis anjlok hingga sekitar 80 persen dibandingkan sebelumnya.

Solusinya datang dari Inggris, yaitu penaburan belerang (dalam bentuk serbuk atau campuran kapur-belerang). Cara ini melindungi daun dan buah, dan kemudian menjadi praktik umum di Prancis.

Ilustrasi jamur embun tepung anggur: miselium, spora, dan efek belerang
Ilustrasi jamur embun tepung pada anggur dan efek belerang (1907). Sumber: Wikimedia Commons, tanpa batasan hak cipta.

2. Filoksera: Serangan pada Akar

Pada awal 1860-an muncul wabah yang jauh lebih merusak. Penyebabnya adalah filoksera (Daktulosphaira vitifoliae), serangga kecil sejenis kutu yang menghisap cairan akar anggur. Tanaman menguning, layu, dan mati dalam beberapa tahun. Nama phylloxera berasal dari bahasa Yunani yang berarti “daun kering”. Serangga ini diduga masuk ke Eropa bersama bibit anggur Amerika yang diimpor untuk mencari tanaman tahan embun tepung.

Filoksera menyebar perlahan tetapi menghancurkan sebagian besar kebun anggur Eropa. Di Prancis, perkiraan umum menyebut sekitar 40 persen kebun anggur musnah, dan sebagian sumber menyebut angka yang lebih tinggi. Anggur Amerika ternyata lebih toleran terhadap serangan ini. Solusi yang berhasil adalah grafting (penyambungan): batang bawah dari anggur Amerika yang toleran filoksera disambung dengan batang atas anggur Eropa. Teknik ini masih menjadi praktik standar sampai sekarang. Pemulihannya lambat karena kebun harus ditanam ulang.

3. Embun Bulu (Downy Mildew)

Ketika industri mulai pulih, pada 1878 muncul penyakit ketiga di Prancis, yaitu embun bulu yang disebabkan jamur Plasmopara viticola. Gejalanya berupa bercak kuning pada permukaan atas daun dan lapisan putih seperti bulu di sisi bawah. Daun mati dan rontok, pucuk dan tandan buah muda ikut terserang. Penyakit ini berkembang pesat pada cuaca dingin dan lembap.

Setelah berbagai percobaan gagal, ahli botani Prancis Pierre-Marie-Alexis Millardet memperhatikan bahwa tanaman anggur di tepi jalan yang disemprot campuran kebiruan tetap sehat. Campuran itu, terdiri dari tembaga sulfat dan kapur, sengaja disemprotkan pemilik kebun agar buah tampak beracun dan tidak dicuri. Millardet mengujinya di laboratorium, dan pada 1885 ia mengumumkan formula efektif yang kemudian dikenal sebagai bubur Bordeaux (Bordeaux mixture). Formula ini sering ditulis dengan perbandingan 8-8-100.

Bubur Bordeaux menjadi salah satu fungisida pertama yang berhasil dipakai luas dan digunakan di seluruh dunia selama lebih dari satu abad.

Pelajaran bagi Petani Masa Kini

  • Hati-hati dengan bahan tanam impor. Dua dari tiga wabah itu datang bersama bibit yang dibawa dari benua lain. Karantina dan sertifikasi bibit tetap penting.
  • Solusi sering lahir dari pengamatan lapangan. Bubur Bordeaux ditemukan karena pengamat jeli memperhatikan perbedaan antarbaris tanaman.
  • Penelitian harus berkelanjutan. Setelah satu masalah teratasi, masalah baru dapat muncul.
  • Varietas, penyambungan, dan pengendalian penyakit saling melengkapi dalam menjaga produksi.

Catatan: Angka kerugian dalam tulisan ini merupakan perkiraan umum dari literatur sejarah pertanian dan dapat berbeda antarsumber.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.