


Pada 28 Agustus 2024, petani dan penyuluh pertanian berkumpul di Desa Parit Keladi, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, untuk membahas dua program Kementerian Pertanian yang mendukung ketahanan pangan: pompanisasi dan perbenihan padi.
Tujuan dan Peserta
Kegiatan ini berbentuk diskusi kelompok terarah (focus group discussion, FGD) untuk menggali masukan tentang standar penggunaan pompa air dan standar perbenihan padi yang lebih baik di Kalimantan Barat. Hadir petani, perwakilan BSIP Kalimantan Barat, koordinator BPP Sungai Kakap, dan penyuluh pertanian dari beberapa desa sekitar.
Abdulloh Umar selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa pompanisasi bertujuan membantu mengatasi kekeringan di lahan padi melalui sistem pompa air yang lebih baik. Selama kegiatan, peserta mengisi kuesioner dan diwawancarai tentang penggunaan pompa air serta perbenihan padi.
Masalah Tanam yang Tidak Serempak
Di akhir diskusi, peserta membahas penanaman padi serentak. Jika petani tidak menanam pada waktu yang sama, muncul masalah hama: petani yang menanam lebih awal rentan terserang tikus, sedangkan yang menanam terlambat terancam serangan burung pipit.
Usulan Solusi dari Peserta
- Membuat kesepakatan bersama dengan sanksi bagi petani yang menunda penanaman.
- Meminta dinas terkait lebih selektif dalam memilih varietas padi yang disalurkan kepada petani.
- Menggelar pertemuan petani lebih sering agar kerja sama makin kuat.
Catatan
Pertemuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan oleh alat seperti pompa air, tetapi juga oleh kekompakan petani dalam mengatur waktu tanam dan pengelolaan hama. Tanam serempak adalah salah satu cara pengendalian hama yang paling murah dan efektif.
Bagaimana pengalaman Anda dengan tanam serempak di daerah masing-masing? Silakan bagikan di kolom komentar.
