Cara Menghitung Kebutuhan Pupuk Padi Berdasarkan Hasil Uji Tanah

Petak sawah padi berteras dengan rumah dan pepohonan di sekitarnya
Sawah padi di Ubud, Bali. Foto: Jakub Hałun, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Sudah memegang hasil uji tanah tapi bingung mengubahnya menjadi karung pupuk? Lembar laboratorium biasanya hanya menulis angka — misalnya P tersedia 25 mg P2O5/100 g atau K 8 mg K2O/100 g — tanpa memberi tahu berapa kilogram urea, SP-36, dan KCl yang harus dibeli untuk petak Anda.

Mengubah angka itu menjadi dosis adalah inti pemupukan berimbang spesifik lokasi: takaran pupuk disesuaikan dengan status hara tanah dan kebutuhan tanaman. Tanpa langkah ini, pola yang umum terjadi adalah sebagian petani memupuk jauh di atas rekomendasi, sebagian — terutama di luar Jawa — justru di bawahnya. Kelebihan dosis pun merugikan: hara menjadi tidak seimbang, pH menurun, dan P serta K terakumulasi di tanah. Potensi hematnya besar — secara nasional diperkirakan setara 540.000 ton urea, 270.000 ton SP-36, dan 270.000 ton KCl.

Catatan sumber: dosis di artikel ini mengikuti Lampiran Permentan No. 40/Permentan/OT.140/4/2007 tentang rekomendasi pemupukan N, P, dan K padi sawah spesifik lokasi, Angka Permentan di sini sudah diverifikasi silang ke sumber-sumber pada daftar Sumber utama dan ke sumber lain yang setara.

Membaca hasil uji tanah yang relevan

Untuk padi sawah, perhatikan lima hal: P tersedia, K tersedia, pH, Al-dd (aluminium dapat dipertukarkan), dan metode ekstrak yang dipakai. Al-dd dan angka lengkap N-P-K biasanya berasal dari analisis laboratorium tanah, sementara Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) mencakup P, K, dan pH.

Tentukan dulu kelas status hara — rendah, sedang, atau tinggi. Batas Balai Penelitian Tanah untuk ekstrak HCl 25% adalah: P rendah bila < 20, sedang 20–40, tinggi > 40 mg P2O5/100 g; K rendah bila < 10, sedang 10–20, tinggi > 20 mg K2O/100 g.

Dua hal perlu diwaspadai. Pertama, angka 20/40 hanya berlaku untuk HCl 25% — kalau laboratorium memakai Bray, Truog, atau Olsen, batasnya berbeda. Kedua, sebagian tabel rujukan keliru menuliskan batas kelas K sama dengan kelas P (< 20 / 20–40 / > 40). Pegang angka yang benar: < 10 / 10–20 / > 20 mg K2O/100 g.

Dosis urea ditentukan bukan dari status P/K, melainkan dari Bagan Warna Daun (BWD) atau target produktivitas — lihat bagian berikut.

Menghitung dosis dari status hara

Fosfor: SP-36

Status P tanahDosis SP-36 (kg/ha)
Rendah (< 20)100
Sedang (20–40)75
Tinggi (> 40)50

Angka mengikuti rekomendasi Permentan dan sumber pada daftar Sumber utama.

Kalium: KCl — tergantung jerami dikembalikan atau tidak

Status K tanahTanpa jeramiDengan jerami 5 t/ha
Rendah (< 10)100 kg KCl/ha50 kg KCl/ha
Sedang (10–20)50 kg KCl/ha0 (tidak perlu)
Tinggi (> 20)50 kg KCl/ha0 (tidak perlu)

Alasannya konkret: bila jerami 5 t/ha dikembalikan, tanah berstatus K rendah cukup diberi 50 kg KCl/ha, sedangkan status sedang dan tinggi tidak perlu diberi KCl. Angka 50 kg/ha pada status K tinggi tanpa jerami bukan salah cetak — kalium yang ikut terangkut panen harus diganti.

Nitrogen: urea lewat BWD

Uji tanah cepat banyak dipakai untuk menetapkan rekomendasi pupuk P dan K, sedangkan rekomendasi pupuk N memakai bagan warna daun (BWD). Angka yang dipakai:

Target kenaikan hasil tanpa NUrea konvensionalUrea + BWDBWD + kandang 2 t/ha
2,5 t/ha275 kg/ha200 kg/ha175 kg/ha
3,0 t/ha325 kg/ha250 kg/ha225 kg/ha
3,5 t/ha375 kg/ha300 kg/ha275 kg/ha

Sebagai pembanding, lahan dengan produktivitas < 5 ton/ha membutuhkan sekitar 200 kg urea/ha; 5–6 ton/ha sekitar 250–300 kg/ha; dan > 6 ton/ha sekitar 300–400 kg/ha. Rekomendasi Permentan 40/2007 mengarah ke kisaran 175–275 kg urea/ha berbasis BWD, diaplikasikan bersama 2 ton pupuk kandang per hektar.

Contoh nyata: rekomendasi spesifik lokasi untuk Kecamatan Banyudono, Boyolali, adalah urea 300, SP-36 75, dan KCl 50 kg/ha. Angka-angka tabel di atas adalah titik awal; rekomendasi akhir sebaiknya mengikuti PHSL atau penyuluh setempat. Untuk mengubah karung menjadi hara: urea mengandung 46% N, SP-36 36% P2O5, dan KCl 60–62% K2O.

Mengubah dosis per hektare menjadi per petak

Rumusnya murni hitungan: dosis petak = dosis per ha × luas petak (ha).

Contoh untuk petak 0,25 ha, tanpa jerami dikembalikan, P sedang, K rendah, dan urea ikut BWD 250 kg/ha: SP-36 = 75 × 0,25 = 18,75 kg; KCl = 100 × 0,25 = 25 kg; urea = 250 × 0,25 = 62,5 kg. Bila jerami dikembalikan, KCl cukup 50 kg/ha sehingga hanya 12,5 kg untuk petak itu. Sebaiknya buat tabel kerja dua kolom — "kg/ha" dan "kg untuk petak saya" — supaya tinggal mengalikan untuk tiap petak.

Kapan dan bagaimana memupuk

Setelah tahu berapa kilogram yang dibutuhkan, tinggal menentukan waktu dan caranya:

  • SP-36 dan KCl adalah pupuk dasar, diberikan saat tanam — disebar lalu dibenamkan atau dirapikan ke tanah, bukan di akhir musim.
  • Urea jangan dihabiskan sekaligus. Bagi menjadi 2–3 kali pemberian; patokan dosis tiap pemberian mengikuti pembacaan BWD pada fase vegetatif atau anjuran penyuluh.
  • Jangan menabur urea di genangan dalam — pupuk mudah hilang terbawa air.
  • Kapur diberikan lebih dulu. Campurkan ke tanah beberapa minggu sebelum tanam, bukan bersamaan dengan tanam.

Kalau pH masam atau Al-dd tinggi: kapur dulu

Pada tanah mineral masam seperti podsolik/Ultisol yang banyak ditemui di Kalimantan, kemasaman berasal dari aluminium dapat dipertukarkan (Al-dd), dan kebutuhan kapur dihitung dari nilai itu dengan faktor rentang 1× sampai 1,5× Al-dd (1,5× adalah batas atas yang lazim dipakai).

Aturan 1,5 me CaCO3 per me Al untuk pH 4,0–5,6 lazim dipakai, dengan rentang tropis 1,5–3,0 (umumnya 1,5–2,0). Bukti numerik pemakaian 1,5× untuk kalsit: pada Al-dd 0,84–2,03 me/100 g dibutuhkan kalsit 1,26–3,05 ton/ha, persis 1,5 kali — sementara sebagian penulis memakai 1× Al-dd. Contoh: Al-dd 2,0 me/100 g → kalsit sekitar 2,0–3,0 ton/ha. Angka akhir tetap perlu dicek dengan uji lapang. Pengapuran juga menaikkan efisiensi P karena fosfat yang terfiksasi aluminium menjadi tersedia lagi, sehingga SP-36 bekerja lebih baik. Untuk sawah sulfat masam, hitungan laboratorium bisa 25–50% lebih tinggi dari kebutuhan lapang.

Pisahkan gambut dari hitungan ini: kemasaman gambut berasal dari asam organik, bukan Al-dd, sehingga rumus di atas tidak berlaku untuk gambut. Untuk lahan gambut, konsultasikan pemberian amelioran secara terpisah dengan penyuluh. (Artikel blog Cara Meningkatkan Kesuburan Tanah membahas kapur dari sudut pH dan tekstur; sudut Al-dd di sini adalah lanjutannya.)

Kesalahan umum

Memupuk tanpa uji tanah — tanpa kelas status hara, tidak ada dasar memilih baris rendah/sedang/tinggi, dan kita kembali ke pola "pupuk rata" yang boros atau kurang. Menabur urea di genangan dalam — pupuk mudah hilang terbawa air; ikuti aturan BWD dan anjuran penyuluh setempat. Menambah KCl di tanah masam tanpa mengapur — tidak ada dosis KCl khusus untuk tanah masam; pada pH rendah perakaran terhambat aluminium sehingga serapan K tidak efisien. Kapur dulu, baru KCl sesuai tabel.

Penutup: lima langkah praktis

  1. Catat P, K (beserta metode ekstraknya), pH, dan Al-dd dari lembar uji.
  2. Tentukan kelasnya: P < 20 / 20–40 / > 40; K < 10 / 10–20 / > 20 (khusus HCl 25%).
  3. Tarik dosisnya: SP-36 100/75/50; KCl 100/50/50 (tanpa jerami) atau 50/0/0 (dengan jerami 5 t/ha); urea ikut BWD sesuai target hasil.
  4. Kalikan dengan luas petak (dosis/ha × luas dalam ha).
  5. Cek pH/Al-dd dulu: bila masam (tanah mineral), anggarkan kapur 1×–1,5× Al-dd; untuk gambut, minta arahan amelioran terpisah.

Bawa tabel satu halaman ini ke kios pupuk atau penyuluh — selisih antara "kira-kira" dan "terhitung" sering kali selisih antara rugi dan untung.

Baca juga

Sumber utama

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.