Menyusun Rotasi Tanaman Padi–Palawija agar Tanah Tidak Jenuh

Tanaman jagung tumbuh di petak sawah setelah musim padi
Tanaman jagung sebagai palawija penyisip di petak sawah. Foto: Eni Wati, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Sawah yang ditanami padi terus-menerus tiga musim berturut-turut sering menunjukkan tanda yang sama: hama dan penyakit yang itu-itu lagi, gulma dominan bergeser ke jenis yang tahan genangan, dan hasil melandai walau pupuk ditambah. Ini bukan nasib — ini pola. Monokultur padi–padi–padi memberi makan organisme pengganggu yang sama setiap musim, menguras hara dalam pola yang sama, dan memadatkan struktur tanah sawah.

Rotasi dengan palawija memutus pola itu. Bukan lewat teori umum, melainkan lewat kalender konkret: tanaman apa, berapa lama di lahan, dan berapa kebutuhan airnya. Artikel ini menyusunnya dari sumber yang bisa ditelusuri, dan menandai terus terang mana yang belum ada angkanya. Fokusnya kalender tanam, pola per tipologi lahan, dan keputusan air — bukan mengulang daftar jenis palawija.

Kenapa padi terus-menerus menyulitkan

Tiga mekanisme bekerja bersamaan. Pertama, organisme pengganggu (OPT) yang sama mendapat inang tanpa jeda — wereng, penggerek, dan penyakit padi bertahan dari satu musim ke musim berikut lewat tunggul dan sisa tanaman. Kedua, pola serapan hara yang sama berulang: padi mengambil hara dalam proporsi yang sama setiap musim sehingga keseimbangan bergeser. Ketiga, struktur tanah sawah yang selalu digenangi dan dilumpur menjadi padat di lapisan olah, perakaran dangkal, dan gulma air tertentu makin dominan.

Bukti lapang pergeseran OPT: di sawah tadah hujan Rembang, jumlah individu serangga OPT dan musuh alami tiap fase pertumbuhan jagung lebih rendah dibanding padi, dengan keragaman OPT jagung lebih tinggi. Artinya mengganti komoditas memang mengubah tekanan hama — meski efek pastinya tergantung lokasi.

Memilih palawija penyisip: umur dan kebutuhan air

Pilih palawija dari dua saringan: cukup pendek untuk masuk di antara musim padi, dan kebutuhan airnya sesuai dengan air yang tersedia. Angka umur yang terverifikasi:

  • Padi ≈ 120 hari, jagung ≈ 125 hari, kedelai ≈ 85 hari — dari pola berurutan padi→jagung→kedelai dengan jeda satu minggu antar tanam. Kedelai setidaknya butuh 70 hari untuk mencapai puncak produksi, jadi jangan dipotong terlalu cepat.
  • Kacang hijau genjah 55–60 hari — cocok sebagai sisipan pendek di sela kalender yang sempit; varietas Vima I mencapai 1,92 t/ha dibanding lokal 1,4 t/ha.
  • Umur kacang tanah belum ada angkanya yang bisa dipastikan dari sumber terbuka — jangan memakai angka umur kacang tanah dari ingatan untuk menyusun kalender.

Dari sisi air, urutannya jelas dan bisa ditelusuri: padi paling boros, jagung paling irit. Kebutuhan air irigasi tercatat paling banyak pada padi; sebagian literatur mencatat yang terendah pada kedelai, sebagian pada jagung, sehingga yang aman dipakai adalah arahnya — padi paling banyak, jagung paling sedikit. Angka net irrigation padi tercatat 1.076,7 mm, sementara rincian angka air per fase dari sumber itu tidak konsisten, jadi pakai arahnya, bukan angka rinciannya. Efisiensi air per ton (water footprint) memperkuat urutan: jagung 921,67 m³/ton < kedelai 1.927,91 < kacang tanah 2.863,35 m³/ton. Praktisnya: bila air terbatas, jagung dulu; kedelai bila air cukup.

Semua angka air di atas berasal dari penelitian di Jawa. Angka kebutuhan air untuk Kalimantan Barat belum ada yang bisa dipastikan, jadi pakai urutannya untuk memutuskan, bukan milimeternya mentah-mentah.

Yang sebenarnya berubah di tanah — dan yang tidak

Bagian ini paling sering dilebih-lebihkan, jadi pegang datanya ketat. Percobaan rotasi di Sragen membandingkan residu musim pertama (residu padi vs kacang tanah vs kedelai) lalu padi–padi:

  • Hasil padi naik nyata karena rotasi legum: total dua musim padi mencapai 11,43 t/ha pada rotasi legum–padi–padi vs 10,63 t/ha pada padi–padi–padi. Rinciannya: kacang tanah+padi 11,61 dan kedelai+padi 11,24 t/ha. Bonus dari penelitian yang sama: pupuk organik mampu mensubstitusi pupuk NPK sebesar 30%.
  • Tetapi N-total dan bahan organik tanah TIDAK berbeda nyata antar rotasi — begitu pula K-tertukar. Kadar bahan organik ketiga pola berkisar 1,6–1,8% tanpa beda nyata. Bahkan P-tersedia justru lebih tinggi di padi–padi–padi (7,61/7,89 ppm) karena residu padi menaikkan KPK yang menahan fosfat dari SP-36.
  • Yang terbukti berubah adalah serapan hara: rotasi kedelai–padi–padi meningkatkan serapan N, sedangkan padi–padi–padi meningkatkan serapan K.

Jadi redaksi yang jujur: rotasi legum menaikkan hasil padi dan serapan N, bukan "menaikkan N-total tanah". Mekanisme fiksasi N lewat bintil akar Rhizobium pada kedelai/legum memang ada, tetapi angka kg N/ha sisa tanaman legum untuk Indonesia belum ada yang bisa dipastikan — jangan menulis angka sumbangan N. Angka "N naik 20% / pestisida turun 50%" yang beredar dari satu studi literatur tidak dipakai di sini karena tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pola rotasi yang lazim: kalender dan hitungan air

Contoh pola berurutan dengan jeda

Pola paling konkret yang bisa ditelusuri: padi 6 Maret→3 Juli (≈120 hari), jeda satu minggu, jagung 11 Juli→12 November (≈125 hari), jeda satu minggu, kedelai 20 November→12 Februari (≈85 hari). Totalnya hampir setahun penuh. Tanggalnya dari Stasiun Juanda, Jawa Timur — pakai sebagai contoh cara menyusun urutan dan jeda, bukan tanggal tanam untuk Kalimantan Barat. Prinsipnya: beri jeda sekitar satu minggu untuk olah tanah dan memutus jembatan OPT, lalu hitung mundur dari awal musim hujan setempat.

Kacang hijau (55–60 hari) bisa menggantikan kedelai bila jeda antar musim padi sempit — hemat sekitar satu bulan dibanding kedelai 85 hari.

Pola per tipologi lahan

Untuk lahan rawa lebak, tiga pola partisipatif dari IP 100 ke IP 200: lebak pematang → padi–padi–palawija dengan pompa; lebak tengahan → padi–padi–palawija dengan suplesi dan drainase; lebak dalam → padi–padi–bera dengan drainase. Pelajarannya umum: padi–padi–palawija butuh air terkendali (pompa/drainase); tanpa itu, pilih padi–padi–bera daripada memaksakan palawija yang kebanjiran.

Menghitung agar tidak bertabrakan

Susun kalender mundur dari musim hujan: tempatkan padi di puncak ketersediaan air (ia butuh 1.076,7 mm net irrigation), jagung di ekor musim (paling irit air, footprint terendah), kedelai di antaranya bila air cukup. Cek umur terhadap jendela: jendela 90 hari → kacang hijau masuk, kedelai 85 hari pas-pasan, jagung 125 hari tidak masuk. Koordinasikan dengan jadwal air golongan — palawija di luar giliran air berisiko gagal bukan karena varietasnya, melainkan karena airnya.

Kendala nyata di lapangan

Air dan drainase adalah syarat, bukan pelengkap. Tanpa pompa atau drainase yang berfungsi, palawija di musim ketiga busuk akar — pola di atas menegaskan ini. Di lahan pasang surut atau sulfat masam, yang banyak terdapat di Kalimantan Barat, palawija hanya berhasil bila drainase dan pencucian berjalan; kalau pirit teroksidasi, akar keracunan aluminium-besi (Al-Fe) dan tanaman gagal meski air tampak "cukup". Pelajarannya sama: tanpa drainase, jangan paksa palawija.

Kelembagaan juga menentukan: strategi menaikkan indeks pertanaman terkendala kapasitas penyuluh yang lemah dan kepercayaan petani yang sulit diubah, seperti didokumentasikan di Lebong, Bengkulu — tanam serempak dan kesepakatan jadwal air butuh penyuluh dan kelompok tani yang aktif. Kendala pasar dan modal (harga dan penyerapan jagung/kedelai lokal, biaya benih) belum ada angkanya yang bisa dipastikan dari sumber terbuka — survei pasar setempat sebelum menetapkan komoditas, jangan mengandalkan harga musim lalu.

Penutup: lima langkah praktis

  1. Kenali jenuhnya: OPT sama berulang, hasil melandai walau pupuk tambah — saatnya rotasi, bukan tambah dosis.
  2. Pilih palawija dari air dan jendela waktu: air terbatas → jagung; jendela sempit → kacang hijau 55–60 hari; air cukup → kedelai 85 hari.
  3. Susun kalender berurutan dengan jeda ~1 minggu, hitung mundur dari musim hujan setempat (pakai contoh urutan di atas sebagai pola, bukan tanggal Kalbar).
  4. Jaga ekspektasi tanah tetap jujur: targetnya hasil padi naik (11,43 vs 10,63 t/ha) dan serapan N membaik — bukan N-total melonjak.
  5. Amankan syaratnya dulu: pompa/drainase, kesepakatan jadwal air sehamparan, dan pasar. Sebelum menetapkan komoditas, tanyakan jadwal giliran air golongan dan pasar setempat — harga musim lalu bukan jaminan. Tanpa syarat ini, padi–padi–bera lebih aman daripada palawija yang gagal.

Baca juga

Sumber utama

  • Jalil, M. 2021. Jurnal Penelitian Ipteks 6(1):6–15. DOI 10.32528/ipteks.v6i1.5110
  • Padmini, O.S., Tohari, Prajitno, D. & Syukur, A. 2008. Pengaruh rotasi tanaman terhadap hasil padi. Ilmu Pertanian 15(1):59–68. journal.ugm.ac.id
  • Vera dkk. 2026. Prosiding Agropross Politeknik Negeri Jember. proceedings.polije.ac.id
  • Bandur dkk. 2025. Jejak air komoditas pertanian. JMTS 8(4):1141–1150. journal.untar.ac.id
  • Prasetiaswati, N. & Radjit, B.S. 2011. Buana Sains 11(1):17–24. jurnal.unitri.ac.id
  • Hastuti, D., Saptaningsih & Izzati, M. 2019. Buletin Anatomi dan Fisiologi 4(2). ejournal2.undip.ac.id
  • Ervianna, Hadi, M. & Rahadian, R. 2020. Bioma 22(1):59–69. ejournal.undip.ac.id
  • Dinata dkk. 2021. Jurnal Agrisep 20(2):305–320. ejournal.unib.ac.id
  • Putri dkk. 2024. Peran Rhizobium pada fiksasi nitrogen legum. Jurnal Penarik. sihojurnal.com

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.