Padi yang bagus di sawah belum tentu menjadi beras yang banyak di karung. Data BPS tahun 2008 dari survei 2005–2007 mencatat total susut pascapanen padi mencapai 10,82 persen. Dari setiap 10 ton potensi panen, lebih dari 1 ton hilang di sepanjang rantai pascapanen. Angka resmi yang lebih baru dari itu belum ada yang bisa dipastikan dari sumber terbuka. Kehilangan terbesar tidak terjadi di satu titik, melainkan menumpuk sedikit demi sedikit — dan setiap titiknya bisa ditekan.
Di mana kehilangan terbesar terjadi
Rincian BPS 2008 (survei 2005–2007): panen 1,20 persen, perontokan 0,18 persen, pengeringan 3,27 persen, penggilingan 3,25 persen, transportasi 1,53 persen, penyimpanan 1,39 persen — total 10,82 persen. Penghitungan lain atas data yang sama mengelompokkannya menjadi tahapan panen 2,91 persen, pengeringan 3,27 persen, penyimpanan 1,39 persen, penggilingan 3,25 persen. Intinya: pengeringan dan penggilingan adalah dua penyumbang terbesar.
Sebagai pembanding zaman: survei BPS 1996 (musim tanam 1994/1995) mencatat total sekitar 20 persen — panen 9,52, perontokan 4,78, pengeringan 2,13, penggilingan 2,19, transportasi 0,19, penyimpanan 1,61 persen. Satu dekade perbaikan alat memangkas susut hampir separuh: susut bukan takdir.
Kapan sebaiknya dipanen
Kriterianya sederhana: sekitar 90–95 persen gabah sudah menguning. Survei Agustus–November 2024 di Desa Parit Keladi, Kubu Raya: 92 persen petani sudah memanen pada kematangan itu.
Terlambat satu minggu menaikkan susut panen dari 3,35 persen menjadi 8,64 persen. Panen terlalu awal pun rugi: gabah hijau berarti kadar air tinggi dan butir hampa banyak. Alat ikut menentukan — sabit tradisional 9,52 persen, sabit bergerigi 7,80 persen, reaper 6 persen, paddy mower 2 persen, combine harvester 2,55 persen.
Gabah hasil panen langsung (GKP) berkadar air 22–24 persen, terukur pada Inpari 44. Kadar setinggi ini alasan gabah tidak boleh ditumpuk lama tanpa dikeringkan.
Perontokan: cepat dan bersih
Susut perontokan nasional turun dari 4,78 persen (1995/1996) menjadi 0,98 persen (2007) seiring peralihan ke perontok bermesin. Uji Ciherang, Hibrida, dan Cibogo: gebot 3,31–4,35 persen turun menjadi 0,64–1,21 persen dengan power thresher.
Uji lapangan Inpari 44 pada kadar air 22–24 persen memperhalus gambaran. Susut bobot tidak berbeda nyata: gebot 2,37 persen vs mesin 2,29 persen. Keunggulan mesin ada di dua tempat yang berbeda nyata: gabah tercecer turun separuh (1,00 vs 0,50 persen) dan beras kepala naik jauh (77,49 vs 67,85 persen; beras patah 16,08 vs 22,51 persen). Waktu terpaut jauh: 10,15 vs 30,88 jam per hektare.
Dari uji yang sama: rendemen rata-rata 61,40 persen, gebot 62,80 persen sedikit lebih tinggi dari mesin 59,99 persen — tidak berbeda nyata. Jadi mesin unggul di mutu dan tercecer, tetapi tidak otomatis menaikkan rendemen.
Jangan menunda perontokan: tertunda 1 malam 0,87 persen, 2 malam 1,35 persen, 3 malam 3,12 persen. Penundaan sehari plus perontokan manual bisa mencapai 21 persen dibanding 7 persen dengan power thresher. Pakai wadah dan alas saat mengumpulkan — menekan kehilangan 0,94–2,36 persen.
Pengeringan: kejar kadar air sebelum jamur datang
Gabah ideal digiling pada 13–14 persen, SNI maksimal 14 persen. PPK Jawa Barat mencatat rata-rata lapangan 13,64 persen. Di bawah 13 persen beras patah dan menir bertambah; di atas 15 persen rol aus dan mutu turun.
Kadar air aman selalu berpasangan dengan lama simpan: 14–18 persen hanya untuk 2–3 minggu; 12–13 persen untuk 8–12 bulan; di bawah 9 persen untuk lebih dari setahun. Di atas 14 persen gabah berjamur. Karena itu jangan pernah menuliskan "12–14 persen aman" tanpa menyebut berapa lama akan disimpan.
Di Kubu Raya, 100 persen petani menjemur 1–3 hari tergantung cuaca, dibolak-balik dua jam sekali, target sekitar 14 persen. Susut penjemuran 1,5–2,2 persen, mesin pengering di bawah 1 persen. Gabah menumpuk basah menjadi panas dari dalam — saat itulah ia harus segera dikeringkan, apa pun caranya.
Di iklim lembap Kalimantan Barat, hujan sering memutus penjemuran. Bila gabah belum mencapai 13–14 persen dalam 1–3 hari, jangan ditumpuk lama — panas tumpukan memicu jamur dan butir kuning. Dahulukan menyelesaikan gabah (yang belum digiling) daripada beras.
Bukti bahwa susut bisa ditekan: Lombok Tengah, Januari–Februari 2018, susut perontokan 0,24 persen, pengeringan 0,05–0,07 persen, penggilingan 0,60 persen — total sekitar 0,9 persen. Itu bukan angka nasional — definisi dan praktiknya khas setempat — melainkan contoh alat dan cara yang benar.
Penggilingan dan penyimpanan: rendemen dan hama gudang
Rendemen lapangan 60–74 persen. PPK Jawa Barat rata-rata 65,87 persen vs nasional 64,02 persen; pola dominan 65,35 persen, terbaik 70,23 persen. Varietas berperan: Cibogo 67,8 persen, Ciherang 62,6 persen, Hibrida 60,8 persen; susut giling 1,41 vs 3,43 vs 3,02 persen. Terbuang bersama sekam sekitar 1,74 persen, bersama dedak 1,27 persen.
Acuan mutu dari Sambas dan Kubu Raya: beras kepala di atas 65 persen, derajat sosoh di atas 90 persen, patah di bawah 28 persen, menir di bawah 2 persen, kadar air di bawah 14 persen. Mutu jatuh bila gabah kurang matang atau fermentasi karena terlambat kering, kemurnian rendah, atau disosoh 2–3 kali. Makin banyak tahap mesin menaikkan pecah kulit dan patah, tetapi menurunkan beras kepala.
Penyimpanan hermetik — tabung atau tong kedap — menekan kadar air dan hama: oksigen turun dari 21 persen ke bawah 10 persen, viabilitas benih naik dua kali lipat selama 6–12 bulan. Penyimpanan terbuka justru menaikkan kembali kadar air beras.
Hama utama adalah kumbang bubuk (Sitophilus zeamais). Uji laboratorium pada kadar air 12 vs 14 persen selama 40–120 hari: kerusakan selalu lebih tinggi pada 14 persen; pada 120 hari susut berat 41,55 persen. Ini uji laboratorium pada kadar air 14 persen selama 120 hari, bukan dapur petani. Praktisnya: simpan pada 12–13 persen, periksa kadar sebelum menyimpan, hindari simpan lebih dari 3–4 bulan pada 14 persen tanpa pengamanan.
Selain kumbang bubuk, tikus dan hama gudang lain juga menyumbang susut simpan. Cara paling aman dan murah: wadah kedap, ruang tertutup, dan tumpukan di atas palet — bukan pestisida gudang tanpa dosis yang jelas.
Kendala nyata: cuaca, mesin, dan skala ekonomi
Analisis atas data BPS 2018–2023: susut 6,0 juta ton GKG per tahun — sekitar 3,9 juta ton beras — senilai Rp34,4 triliun per tahun, dengan penggilingan sendiri Rp25,1 triliun. Sebanyak 83 persen kapasitas giling ada di penggilingan kecil (PPK) yang sederhana, dan kontribusinya terhadap susut mencapai 83,21 persen. Susut penggilingan saja 4,4 juta ton GKG per tahun — setara hasil sekitar 1,2 juta hektare. Kendalanya jelas: penggiling di sekitar petani memang berteknologi sederhana.
Pengeringan matahari macet saat hujan; sistem keroyokan menambah tercecer; keputusan menjual gabah basah memindahkan risiko mutu ke pembeli. Angka marjin tengkulak dan susut spesifik per tahap untuk Kalimantan Barat belum ada yang bisa dipastikan dari sumber terbuka.
Penutup: lima langkah yang bisa dicek sendiri
- Panen pada 90–95 persen menguning. Terlambat seminggu menaikkan susut dari 3,35 menjadi 8,64 persen.
- Rontokkan hari itu juga dengan mesin. Tercecer turun separuh, beras kepala naik dari 67,85 menjadi 77,49 persen.
- Keringkan sampai 13–14 persen. Jemur 1–3 hari dengan pembalikan, atau pakai mesin bila hujan (susut di bawah 1 persen). Untuk simpan 8–12 bulan: 12–13 persen.
- Giling di tempat yang terukur. Patokan: kepala di atas 65 persen, patah di bawah 28 persen, menir di bawah 2 persen.
- Simpan kering, kedap, terpantau. Kadar 12–13 persen, wadah hermetik atau karung di atas palet di ruang tertutup, periksa berkala.
Baca juga
- Cara Meningkatkan Produktivitas Tanaman Padi
- Varietas Unggul Baru (VUB) Padi untuk Meningkatkan Hasil Panen
- Cara Menyemai Benih Padi agar Tanaman Bebas dari Penyakit Blas
- Manfaat Kesehatan Beras Merah dan Peluangnya bagi Petani
Sumber utama
- Sawit, M.H. 2024. Menghitung nilai ekonomi kehilangan hasil pada industri penggilingan padi. Jurnal Pangan 33(2):89–96 (analisis data BPS 2008 & BPS 2018–2023). doi.org/10.33964/jp.v33i2.726
- Anggraini, R. 2025. Survei pascapanen padi skala petani, Desa Parit Keladi, Sungai Kakap, Kubu Raya, Kalimantan Barat (survei Agustus–November 2024). Agrofood. doi.org/10.63848/agf.v07n1.3
- Hasbullah, R. & Dewi, A.R. 2012. Kajian mutu dan susut hasil perontokan padi. Jurnal Pangan 21(1):17–28. jurnalpangan.com
- Mabruroh, Budirokhman & Amini. 2024. Uji perontokan padi Inpari 44. Agroswagati 12(1). doi.org/10.33603/agroswagati.v12i1.10929
- Suwati, Wiryono & Romansyah. 2018. Susut hasil padi di Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Ulul Albab 22(2):105–109. doi.org/10.31764/jua.v22i2.595
- Rachmat, R. 2008. Teknologi penyimpanan gabah secara hermetik untuk menekan susut kualitas dan kuantitas. PANGAN No. 51/XVII (Juli–September 2008):81–89.
- David H., J. & Kartinaty, T. 2019. Mutu giling padi di Sambas dan Kubu Raya. Tabaro 3(1):275–285. doi.org/10.35914/tabaro.v3i1.197
- Aminudin. 2024. Rendemen penggilingan padi kecil di Jawa Barat. Jurnal Pangan 33(3):217–226. doi.org/10.33964/jp.v33i3.878; Rusmono & Aminudin. 2022. Jurnal Pangan 31(3):217–232. doi.org/10.33964/jp.v31i3.576
- Lestari, S. & Kurniawan, F. 2021. Kadar air dan mutu giling gabah. Agriprima 5(2):159–168. doi.org/10.25047/agriprima.v5i2.438
- Putri, N.P. dkk. 2023. Serangan Sitophilus zeamais pada kadar air dan lama penyimpanan berbeda. Jurnal Agrium 20(3):275–283. ojs.unimal.ac.id
- Badan Pusat Statistik. 2008. Survei susut pascapanen padi 2005–2007 (sebagaimana dikutip Sawit, 2024 dan Anggraini, 2025).
